†EVILIOTIC CONSPIRACY† ADMIN ADITYA PANGLEJAR SUKMA WIJAYAADMIN ADITYA PANGLEJAR SUKMA WIJAYA †EVILIOTIC CONSPIRACY†

Senin, 29 April 2013

HASIL HASIL PENELITIAN HAMA LALAT BIBIT


Anonim, 2013 : Lalat bibit berwarna abu-abu, panjang 3-3,5 mm, punggungnya berwarna kuning kehijauan dengan tiga buah garis. Bagian perut berwarna coklat kekuningan. Telur berwarna putih, diletakkan tersebar pada bawah daun. Setelah 2-3 hari telur menetas. Larva yang beru keluar masuk ke dalam upih daun dengan bantuan air (embun). Kemudian masuk kedalam merusak titik tumbuh dan selanjutnya masuk sampai ke pangkal batang. Ulat hidup selama 8-18 hari. Kepompong berwarna kemerah-merahan, kemudian berubah menjadi agak gelap bila kepompongnya telah tua. Kepompong kadang-kadang dibentuk dalam jaringan tanaman, tapi umumnya dibentuk dalam tanah. Umur kepompong rata-rata 8 hari. Pada malam hari, larva menyebabkan serangan berat. Tanaman yang diserang kelihatan kerdil, berwarna kekuningan dan layu. Sebagai tanaman inang adalah rumput-rumputan seperti Panicum repens, Cynodon dactylon, padi gogo.

Gejala: 
Plant Protection, 2013 :
 Daun berubah warna menjadi kekuning-kuningan; di sekitar bekas gigitan atau bagian yang terserang mengalami pembusukan, akhirnya tanaman menjadi layu, pertumbuhan tanaman menjadi kerdil atau mati. Penyebab: lalat bibit dengan ciri-ciri warna lalat abu-abu, warna punggung kuning kehijauan dan bergaris, warna perut coklat kekuningan, warna telur putih mutiara, dan panjang lalat 3-3,5 mm.
Pengendalian :
Plant Protection, 2013 :
(1) penanaman serentak dan penerapan pergiliran tanaman akan sangat membantu memutus siklus hidup lalat bibit, terutama setelah selesai panen jagung;
(2) tanaman yang terserang lalat bibit harus segera dicabut dan dimusnahkan, agar hama tidak menyebar;
(3) kebersihan di sekitar areal penanaman hendaklah dijaga dan selalu diperhatikan terutama terhadap tanaman inang yang sekaligus sebagai gulma;
(4) pengendalian secara kimiawi insektisida yang dapat digunakan antara lain: Dursban 20 EC, Hostathion 40 EC, Larvin 74 WP, Marshal 25 ST, Miral 26 dan Promet 40 SD sedangkan dosis penggunaan dapat mengikuti aturan pakai.

Hasil Hasil Penelitian Hama Lalat Bibit
Dewi Rumbaina Mustikawati , 2013 : Lalat bibit (Atherigona sp.) merupakan hama yang menyerang pada awal pertumbuhan tanaman jagung mulai tumbuh sampai umur tiga minggu. Salah satu komponen pengendalian lalat bibit adalah dengan menyebar mulsa jerami padi merata sebanyak 5 ton/ha setelah tanam jagung. Sampai saat ini belum dilaporkan pemanfaatan mulsa brangkasan jagung. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh mulsa brangkasan jagung dan dolomit terhadap serangan lalat bibit dan hasil jagung. Kegiatan pengkajian dilakukan pada agroekosistem lahan kering, di Desa Budi Lestari, Kecamatan Tanjung Bintang, Lampung Selatan dari bulan Mei รข€“ Juli 2007. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan pola faktorial yang terdiri dari empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan tersebut adalah 1). Tanpa mulsa dan tanpa kapur (M0K0), 2). Pakai mulsa dan tanpa kapur (M1K0), 3). Tanpa mulsa dan pakai kapur (M0K1), dan 4). Pakai mulsa dan pakai kapur (M1K1). Pemberian mulsa brangkasan jagung 5 ton/ha, sedangkan pemberian kapur dolomit 1,5 ton/ha. Varietas jagung yang digunakan adalah jagung varietas Lamuru. Luas petak perlakuan 4 x 5 m, dan jarak tanam 75 x 25 cm. Parameter yang diamati adalah serangan lalat bibit pada umur 10 hst, tinggi tanaman maksimum dan hasil jagung. Hasil kajian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan pakai mulsa dan pakai kapur adalah yang terbaik pada tanaman jagung karena serangan lalat bibit terendah dan hasil jagung tertinggi.

S. Asikin, M. Thamrin, H. Talanca dan R. Galib, 2013 : Diketahui bahwa jagung varietas lokal asal Kalimantan Selatan sangat disenangi oleh lalat bibit untuk meletakkan telurnya.  Lalat bibit meletakkan telur pada permukaan daun pada saat sore hari.  Panjang telur rata-rata 1,2 mm dengan lebar 0,3 mm.  Telur menetas 44-66 jam setelah diletakkan.  Waktu penetasan telur berkisar antara pukul 16.00-03.00.  Selama periode ini, kelembaban permukaan daun jagung relatif tinggi. Setelah menetas menjadi larva, maka larva masuk ke dalam tanaman melalui pelepah atau gulungan daun sambil memakan jaringan tanaman. Lapisan air pada permukaan daun akan mempermudah masuknya larva ke dalam pelepah daun. Kematian tanaman dapat terjadi akibat kerusakan pada titik tumbuh.  Stadium larva berlangsung selama rata-rata 17 hari, kemudian masuk ke dalam tanah untuk membentuk pupa. Pupa serangga ini terbentuk di dalam tanah, sekitar perakaran pertanaman jagung.  Stadium pupa berlangsung rata-rata 8 hari. Imago lalat bibit berwarna kelabu yang panjangnya rata-rata 3 mm.  Stadium imago berlangsung rata-rata 7 hari. Lalat bibit menyerang jagung pada masa pertumbuhan vegetatif awal dan serangan menurun jika tanaman sudah berumur 30 hari.  Larva muda yang makan pada pangkal daun menimbulkan gejala seperti daun berlubang-lubang, pertumbuhan terhambat, menguning, jaringan membusuk atau seperti gelaja sundep.  Tanaman inang selain jagung adalah padi gogo dan dapat juga menyerang rumput-rumputan seperti Cynodon dactylon, Panicun repens dan Paspalum  sp.

Iqbal, A., 2013 :
 Suatu studi mengenai biologi telur dan perkembangan belatung lalat bibit jagung Atherigona sp. telah dilakukan pada MH 1982/83 dan MH 1983/84 di KP Cikeumeuh, Bogor. Lalat ternyata lebih suka meletakkan telur pada permukaan bawah daun muda. Telur diletakkan sepanjang hari yang puncaknya terjadi antara pukul 16.00 sampai 18.00 wib. Rata-rata ukuran telur 1,2 x 0,3 mm dan stadium telur selama 57 jam menetas pada waktu keadaan kelembaban tinggi. Perilaku belatung dalam tanaman jagung cenderung untuk memilih dan makan bagian daun yang lebih lunak atau lebih muda sampai ke titik tumbuh. Pola penyebaran belatung dalam tanaman dipengaruhi oleh faktor populasi telur dan waktu tanam.

Soejitno J.Dimyati A.Hanarida I., 2013 : Telah dilakukan serangkaian penelitian untuk mengetahui tipe mekanisme keresistenan yang terdapat dalam bahan genetik padi gogo terhadap serangan lalat bibit, Atherigona exigua Stein, di rumah kaca dan lapangan dari Kebun Percobaan Muara, Balai Penelitian Tanaman Pangan Bogor, dari Oktober 1988 hingga Mei 1989. Selama Oktober – Nopember dilakukan dua kali tanam untuk mengetahui perkembangan populasi lalat, dan setelah populasi lalat meningkat (Desember 1988) barulah dilaksanakan percobaan, di lapangan maupun di rumah kaca. Digunakan 6 kultivar, yakni Arias, C22, Ranau, Singkarak, Sentani dan Danau Atas. Arias diketahui resisten, sedangkan C22 rentan terhadap serangan lalat bibit. Empat kultivar lainnya merupakan varietas unggul baru. Di rumah kaca, setiap kultivar ditanam dalam pot (10 tanaman/pot), berdiameter 25 cm dan tinggi 30 cm. Sehari setelah kultivar tumbuh, tanaman dipindahkan ke lapangan agar mendapat infestasi lalat bibit. Telur dihitung tiap hari untuk dijadikan ukuran tingkat preferensi lalat bibit terhadap kultivar padi gogo yang diuji. Di lapangan jumlah dan macam kultivar yang ditanam sama dengan di rumah kaca, tiap petak berukuran 2 x 1,5 m dengan jarak tanam 30 x 15 cm. Jumlah telur yang diletakkan dihitung setiap hari setelah tanaman tumbuh, hingga berumur 21 hari setelah tanam. Untuk mengevaluasi adanya antibiosis tanaman terhadap hama, dilakukan percobaan dalam rumah kaca dengan menanam 10 tanaman/pot, untuk keenam kultivar satu minggu setelah tanam, pada tiap pot diinokulasikan 5 butir telur lalat bibit, kemudian dikurung dengan milar plastik. Jumlah dan bobot larva pada setiap pot diamati dengan melakukan sayatan terhadap bagian yang mungkin ditempati oleh hama, dan pengamatan ini dilakukan pada 10, 14, 15, 16 dan 17 hari setelah inokulasi. Pada unit percobaan lainnya, dengan rancangan dan perlakuan yang sama, dilakukan penghitungan lalat dewasa yang muncul, dan penghitungan ini dilakukan terhadap generasi yang pertama saja. Untuk mengevaluasi daya toleransinya, dilakukan pengamatan terhadap kerusakan tanaman dan terhadap tanaman yang tak mengalami kerusakan.

A.M. Adnan, 2013 : In Indonesia, QPM (Quality Protein Maize) is  developed to support food diversity and food safety. The main pest such as seedling fly ( Atherigona  sp) holds important role in decreasing maize production. The use of resistant varieties is more effective and efficient to control this pest. Therefore, this study aimed to evaluate resistance of yellow QPM genotypes to seedling fly. Around 50 genotypes of yellow QPM including Lamuru as susceptible check and Srikandi Kuning 1 as resi stant check were evaluated to seedling fly. This research was carried out on Muneng Expe rimental Farm, Probolinggo, East Java from August till December 2007. Each population was examined by using RCBD with 2 replications. Among 10 genotypes, susceptibl e check and resistant check were planted. The result showed that 29 genotypes of yellow QPM with intensity 6 – 24% and 3 genotypes with ≥ 25% could be categorized rather resistant and susceptible, respectively. 18 genotypes were catego rized resistant.

Surtikanti dan M. Yasin, 2013 : Serangan lalat bibit dicirikan dengan layunya titik tumbuh dan jika bagian layu dicabut akan mudah lepas dan tampak membusuk. Keadaan ini akan mengakibatkan terputusnya sebagian jalan translokasi bahan makanan yang menyebabkan terganggunya pertumbuhan tanaman. Pada tanaman jagung muda, antara umur 14 sampai 35 hari, kemampuan belatung mencapai titik tumbuh dapat lebih awal, sebagai akibat tanaman tidak mempunyai peluang untuk menyembuhkan diri. Ada beberapa cara pengendalian untuk lalat bibit 

Sumber : A.M. Adnan, 2013; Anonim, 2013; Dewi Rumbaina Mustikawati , 2013; Endro, S., 2013; Iqbal, A., 2013; Plant Protection, 2013; S. Asikin, M. Thamrin, H. Talanca dan R. Galib,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar